Selasa, 01 Mei 2012

Haruskah aku sendiri yang peduli..?

Beda kepala beda rambut juga beda pemikiran...ungkapan itu begitu cocok untuk kumunitas sosial dalam satu lingkup pekerjaan. Masing masing memiliki tujuan berbeda dalam menentukan sikapnya, ada yang manut terhadap pimpinannya dengan tujuan untuk menghindari konflik, ada juga yang berharap dipermudah dalam segala urusan kedinasannya, trusada juga yang berharap untuk menjadi pendamping setianya dalam hal ini menjadi wakil seumur hidup. Lha aku bagaimana ? apakah aku ini sang pemberontak sejati?

Itulah sekelumit romantika kehidupan yang berada dilingkungan sekolah..sepertinya aku ditakdirkan untuk menjadi seorang pemberontak yang mudah untuk bertempur, sensitif terhadap kebijakan yang nyeleneh. Sudah tak terhitung berapa kepala sekolah yang silih berganti dan selama itu pula aku bergelut dengan dunia konflik walo tidak sampai beradu fisik karena aku tabukkan hal yang seperti itu..aku garang dalam setiap rapat hingga urat leherku tertarik kencang kedepan..aku ingat waktu itu sempat menggebrak meja..dalam hatiku aku bersikap benar karena ada siswa yang sudah dinyatakan tidak lulus kemudian tiba tiba selang beberapa hari dia menyatakan anak tersebut lulus..yah akhirnya aku kalah karena tidak ada seorangpun yang berani bicara atas kecurangan kepala sekolah tersebut. Yang menurutku paling parah adalah ..aku telah berani beraninya menyidangkan kepala sekolah, ( yang hadir pada waktu itu Kepala sekolah, wakil kepala sekolah, perwakilan guru, bendahara BOS dan komite sekolah ) lho koq bisa? coba anda bayangkan dana BOS sebesar  Rp. 150.000.000,-/ triwulan ..akan tetapi sekolah setiap bulannya mengalami defisit hampir Rp.40.000.000 aku bertanya dalam hati kenapa kejadiannya sampai begitu parah? berangkat dari pertanyaan itu aku nekad study banding ke sekolah lain yang kepala sekolahnya aku kenal dan berusaha mengorek keterangan tentang penggunaan dana BOS tersebut..

Dari hasil melancong ke sekolah lain aku menemukan titik terang bahwa instansi sekolahku nyata nyata telah  melenceng dari Juknis penggunaan dana BOS, adapun kesalahannya :
1.  Pembuatan RAKS hanya copas dari tahun sebelumnya
2.  Pembuatan RAKS tidak melibatkan dewan guru dan komite sekolah
3.  RAKS seharusnya dipajangkan di papan informasi atau minimal disebarkan ke dewan guru
4.  Bendahara BOS disinyalir memiliki banyak stempel toko atk yang bertujuan untuk merekayasa SPJ..
Apakah rekan rekanku peduli? lagi lagi aku yang dimurkai oleh kepala sekolah...Semoga sahabat yang membaca artikel ini mendapatkan pembelajaran bahwa sungguh berat beban dipundak apabila memiliki kepedulian tapi tidak ada tempat dihati rekan kerja.


Dalam rangka HarDikNas   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar